Kabupaten Sidoarjo, tagarjatim.id – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali menghantui peternak di Sidoarjo. Dua ekor sapi milik Saifullah, seorang peternak di Kecamatan Sukodono, mati mendadak setelah menunjukkan gejala khas PMK.

Sementara itu, sembilan ekor sapi lainnya kini dalam kondisi kritis dan belum mendapatkan vaksinasi dari pemerintah.

Saifullah mengaku kebingungan menghadapi wabah ini. Sejak 2008 beternak sapi, baru kali ini hewan ternaknya terjangkit PMK.

“Dua ekor mati tiba-tiba, sementara sembilan lainnya sakit parah. Sebagian dari mereka kukunya membusuk dan mengeluarkan bau tidak sedap. Nafasnya juga berat karena ada luka di mulut dan hidungnya,” ungkapnya.

Ia bercerita wabah ini bermula setelah dirinya membeli sapi dari Pasar Hewan Probolinggo. Hanya dalam tiga hari, 11 ekor sapi di kandangnya menunjukkan gejala PMK. Dua di antaranya tak bisa diselamatkan, sementara yang lain masih berjuang untuk bertahan hidup.

Sebagai upaya pencegahan, Saifullah telah menguburkan sapi yang mati di lahan kosong di belakang kandangnya. Namun, ia mengeluhkan kurangnya bantuan dari pemerintah dalam menangani wabah ini.

“Sapi yang sudah sakit katanya tidak boleh divaksin. Lalu bagaimana cara kami menyembuhkan mereka?,” keluhnya.

Senada dengan Saifullah, Sining, peternak lain di Sidoarjo, juga merasa pemerintah harus segera turun tangan. Ia menekankan bahwa vaksinasi PMK seharusnya diberikan secara gratis agar peternak tidak semakin terbebani.

“Selama ini kami vaksin sendiri, tapi biayanya mahal. Kami butuh solusi,” ujarnya.

Kondisi ini membuat para peternak semakin waspada. Penyebaran PMK yang cepat dan tingkat kematian yang tinggi membuat mereka khawatir kehilangan lebih banyak sapi. Terlebih, sebagian besar peternak kecil tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk memisahkan sapi yang sehat dari yang terinfeksi.

Dinas Peternakan Sidoarjo diharapkan segera memberikan solusi konkret. Selain vaksinasi, peternak juga membutuhkan pendampingan dalam menangani sapi yang sudah terjangkit. Tanpa langkah cepat dan tepat, dikhawatirkan wabah ini akan semakin meluas dan merugikan banyak peternak di wilayah Sidoarjo.

Peternak kini hanya bisa berharap ada intervensi dari pemerintah sebelum kondisi semakin memburuk. Mereka tak ingin kehilangan lebih banyak sapi akibat keterbatasan akses terhadap vaksinasi dan pengobatan yang seharusnya bisa diberikan lebih cepat. (*)

 

Tonton Video dibawah Ini:
Penjualan Daging Sapi di Pasar Kepanjen Malang Merosot Hingga 40 Persen Gegara Isu PMK